DRAMA Misteri Hantu Rumah Kosong

Misteri Hantu Rumah Kosong
Naskah drama horor bikinan sendiri (menurut saya gk serem loh..) silahkan dinikmati.. 😀 komen juga kalo bisa ya…

Ada 6 orang anak yang sudah bersahabatan sejak kecil, mereka adalah Farhan, Gebby, Dina, Nisa, Putri dan Tiara. Mereka menyukai hal-hal yang menyeramkan dan sangat penasaran akan suatu hal, tetapi lain dengan putri, ia malah takut dengan hal-hal yang menyeramkan, karena sifatnya itu ia sering ditakut-takuti oleh teman-temannya yang lain.

Senin pagi dikelas…
Farhan : “eh gua ada berita bagus nih!”
Nisa : “apaan an? Pasti ada hubungannya sama…”
Gebby : “hantu”
Nisa : “gebby motong-motong aja nih, orang lagi ngomong juga”
Gebby : “hehehe maaf”
Tiara : “udah-udah kok jadi ribut sendiri, an ada apaan?”
Farhan : “itu lu semua tau gak rumah kosong yang sering kita lewatin?”
Dina: “iya tau, trus emang kenapa?”
Farhan : “jadi tuh gua denger-denger dari orang-orang yang sering lewat situ, katanya sering kedengeran kayak ada orang nangis dari dalem rumah”
Nisa : “masa sih? Bohong kali..”
Farhan : “makanya itu gua punya ide gimana kalo kita selidikin tuh rumah?”
Putri : “gak mau… gua gak ikut pokoknya”
Tiara : “yah putri mulai deh, coba deh kan belum tentu hantu”
Putri : “iya sih,tapi kalo emang itu hantu gimana?”
Dina : “insya Allah bukan”
Nisa : “ayo gua mau ikut kok,”
Gebby : “gua juga ikut”
Tiara : “gua ikut”
Dina : “aku juga”
Putri : “aku enggak ya..”
Nisa : “ah gak seru deh putri”
Farhan : “pokoknya semua ikut gk mau tau”
Putri : “tapi…”
Kring… kring… bel masuk pun berbunyi, Putri yang belum sempat menolak akhirnya dengan terpaksa ikut dalam kegiatan tersebut. Sepulang sekolah mereka ber-6 langsung menuju rumah kosong yang dimaksud oleh Farhan.

Farhan : “nah sekarang kita udah sampe, ayo masuk..”
Wahyu : “tunggu dulu,”
Seorang pemuda menghampiri ke-6 orang anak itu
Wahyu: “kalian mau apa disini?”
Dina : “kami mau mencari tahu apakah benar ada hantu di rumah ini”
Wahyu : “jangan! Kalian tidak boleh melakukan hal tersebut.”
Nisa : “emangnya kenapa kok kita gak boleh masuk”
Wahyu : “kalian akan menyesal kalau masih ingin melanjutkan niat kalian”
Putri : “tuh kan dimarahin, udahlah yuk kita pulang aja…”
Farhan : “yaudah kami tidak jadi masuk, kami akan pulang sekarang”
Gebby : “an kok pulang sih?”
Dina : “iya masa gak jadi, kita udah nyampe disini juga..”
Nisa : “tau gak seru nih..”
Farhan : “udah lah, yuk pulang”
Akhirnya mereka semua pun berjalan pulang dengan langkah gontai tak bersemangat, tiba-tiba Farhan berhenti, ia menoleh kebelakang lalu berbalik ke rumah tadi. Teman-temannya pun heran dengan yang dilakukan oleh Farhan

Nisa : “An, lu mau kemana?”
Farhan : “balik kerumah kosong yang tadi”
Nisa : “tapi tadi kan lu yang ngajak kita semua pulang”
Farhan : “iya, tapi itu cuman biar orang itu pergi”
Semuanya : “hah..?”
Mereka pun menyusul Farhan yang sudah duluan, mereka pun bergegas membuka pagar rumah itu, akhirnya mereka dapat memasuki rumah kosong tersebut dengan mudah,
Farhan yang sudah ada di depan pun bingung bagaimana caranya untuk membuka pintu rumah tersebut,
Farhan : “eh gimana nih caranya kita buka pintu ini?”
Gebby : “gampang banget”
Farhan : “gimana caranya”
Gebby : “nih” (sambil menunjukkan kunci)
Farhan : “dapet dari mana?”
Gebby : “tadi keinjek sama gua disitu”
Nisa : “yaudah ayo buruan buka..!”
Gebby pun membuka pintu dengan kunci yang ditemukannya
Semuanya : “yey.. akhirnya kebuka”
Dina : “yakin nih kita masuk?”
Tiara : “loh kenapa? Kok dina jadi takut kayak putri sih”
Dina : “bukan takut, tapi perasaan aku udah mulai gak enak aja”
Tiba-tiba pintu tertutup dengan kerasnya, mereka semuapun kaget
Putri : “jangan-jangan itu hantu lagi”
Gebby : “hush jangan sembarangan mungkin aja angin”
Farhan : “udah yuk katanya mau nyari tau”
Baru saja mereka melangkah di depan mereka sudah berdiri seorang perempuan
Semuanya : “se..se..SETAN…!”
Mereka pun berlari ke lantai atas rumah itu, mereka masuk ke sebuah kamar,
Nisa : “yang tadi itu beneran setan?”
Gebby : “kayaknya emang setan deh, mukanya ja gak jelas gitu”
Putri : “kalian sih, aku bilang apa! Kalian semua malah ngotot banget pengen kesini”
Farhan : “udah-udah, yuk kita lanjut”
Dina : “An, lu gimana sih? Tadi tuh udah jelas-jelas ada setan disini!”
Farhan : “udah bodo, ayo”
Tiara : “tunggu deh, liat nih ada buku album foto nih”
Nisa : “foto apaan?”
Tiara : “nih ada 3 orang, kayaknya sih 1 keluarga”
Gebby : “mana, mana?”
Dina : “eh tunggu deh, kayaknya ibu-ibu ini pernah gua liat deh. Kalo gak salah…”
BRAK… lagi-lagi terdengar seperti pintu yang dibanting oleh seseorang, dan tiba-tiba ke-6 orang tersebut merasakan hawa yang sangat dingin sekali,
Semuanya : “Waaa”
Putri : “aduh gimana nih, makin gak enak aja hawanya”
Farhan : “cuman perasaan lu doang kali, ayo lah kita cari lagi”
Nisa : “cari apaan?”
Putri : “WAAAA…” (kemudian Pingsan)
Dina : “Put, kamu kenapa? Put, bangun put…”
Sementara itu Putri terbayang-bayang suatu kejadian yang terjadi di sebuah rumah, putri pun ingat kalo rumah itu ternyata rumah kosong yang sedang ia datangi bersama teman-temannya
Putri : “loh ini kan di.. di rumah kosong, iya bener tapi kok yang lainnya pada gak ada ya?”
Wedar : “tolong pak jangan ambil akta rumah saya, saya janji akan melunasi hutang-hutang saya”
Rifqi : “Ah.. banyak ngomong banget sih, siapa suruh lu gak bayar-bayar”
Adlin : “pak mohon pak, kasih kami waktu lagi…” (sambil menarik-narik kaki Rifqi)
Rifqi : “apa-apaan kamu, sana pergi dari kaki saya” (menendang adlin)
Adlin pun terlempar sampai kepalanya membentur ujung meja yang lancip, Adlin pun tewas seketika. Wedar yang melihat kejadian tersebut marah dan kemudian mengamuk ke Rifqi
Wedar : “DASAR ORANG GAK PUNYA PERASAAN, LIAT LU UDAH BIKIN ORANG MATI. LU NYADAR GAK SIH SAMA PERBUATAN LU? SIAPA SIH YANG SEBENERNYA BIKIN LU JADI PEMBUNUH KAYAK GINI? SIAPA HAH?”
Rifqi : “suami lu”
Wedar : “hah? Bohong lu pasti bohong”
Aldi : “itu semua benar bu, saya yang menyuruh dia untuk menghabisi kalian”
Wedar : “kenapa pak? Emang ibu salah apa?”
Aldi : “aku sudah tau semuanya, bahwa sebenarnya adlin bukan anak kandungku!”
Wedar : “apa maksudnya?”
Aldi : “sudah kamu tidak usah pura-pura tidak tau! Rifqi, cepat bunuh dia”
Rifqi : “….”
Aldi : “CEPAT! TUNGGU APALAGI?”
Rifqi pun mengambil pisaunya kemudian menusuk wedar tepat di jantungnya.
Sebelum benar-benar menutup mata wedar mengucapkan permintaan maafnya
Wedar : “pak maafin ibu, ibu melakukan ini karena ter..pak..sa..”
Akhirnya wedar pun benar-benar menutup matanya pertanda bahwa ia sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Aldi : “Rifqi, apa kamu tau apa yang terjadi sebenarnya, sehingga saya membunuh anak dan istri saya?”
Rifqi : “tidak tau pak”
Aldi : “apakah kamu benar-BENAR TIDAK TAU? HAH?”
Rifqi : “maaf bapak kenapa marah dengan saya?”
Aldi : “kamu tadi dengar bahwa Adlin itu bukan anak saya kan”
Rifqi : “iya pak, lalu?”
Aldi : “kamu masih pura-pura, kamu kan ayah kandung dari Adlin!”
Rifqi : “….”
Aldi : “kenapa? Kok diem, kamu kira saya tidak tau, saya sudah curiga sama kamu sejak sebulan lau, setiap saya tidak ada, dia bertemu denganmu kan, makanya itu saya memintamu untuk membunuh istri dan anak saya, oh maaf anak kamu mungkin yang lebih tepatnya, bagaimana perasaanmu setelah membunuh anak kandungmu? HAHAHAHA”

Rifqi yang kesal dengan perkataan Aldi pun menusuk Aldi dengan pisau yang sedari tadi masih dipegangnya. Setelah membunuh Aldi, Rifqi pun bunuh diri dengan pisau yang sama, yang tadi dipakainya untuk membunuh wedar dan Aldi. Putri yang melihat kejadian itu hanya bisa menagis, pandangan putri tertuju pada seorang pemuda di luar jendela, ‘loh sepertinya aku pernah liat muka anak kecil itu, tapi dimana ya?’ saat putri berbalik badan ia kaget karena Adlin ada di depannya dengan muka yang sedih, Putri pun teriak sekencang-kencangnya lalu dia pun terbangun dari pingsannya.

Nisa : “eh, Putri udah bangun”
Dina : “Putri, alhamdulillah akhirnya kamu bangun juga”
Putri : “aku dimana?”
Tiara : “ini di rumah kamu put,”
Gebby : “kamu kok pingsan lama banget sih? Di panggil-panggilin gak bangun, udah hampir 2 hari tau”
Putri : “hah? 2 hari? (diam sejenak) eh pas aku pingsan aku ngeliat kejadian aneh,”
Nisa : “aneh gimana?”
Putri : “jadi tuh setan yang sering muncul di rumah sana tuh anak pengusaha, tapi sebenernya dia itu bukan anak kandungnya, trus anak itu dibunuh sama bapak kandungnya”
Dina : “bapak kandungnya kejam amat”
Putri : “tunggu dulu, jadi bapak kandungnya itu dimanfaatin sama pengusaha itu buat ngebunuh anaknya.”
Farhan : “kasian banget yah nasibnya..”
Putri : “iya, trus terakhir aku liat ada pemuda di dalem rumah itu, mukanyanya gak asing, tapi dimana ya?”
Wahyu : “mungkin yang kamu maksud adalah saya”
Putri : (berpikir sejenak) “iya ini orangnya, tapi kok bisa ada disini?”
Gebby : “ya bisa, soalnya orang ini yang bawa kamu kesini”
Putri: “terus kenapa dia masih ada disini?”
Wahyu : “saya hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja, sebenarnya pemuda yang kamu lihat itu adalah anak dari pembunuh itu”
Nisa : “terus kenapa kamu gak kasih tau polisi yang sebenarnya?”
Dina : “iya, kenapa? Apa kamu malu dianggap anak pembunuh?”
Wahyu : “…. iya itulah alasan saya”
Farhan : “terus suara-suara dari dalem rumah itu?”
Wahyu : “mungkin itu suara anak dan istri si pengusaha”
Tiara : “kamu harusnya kasih tau ke polisi kalau kamu tau kejadian yang benernya”
Gebby : “ish tiara, gak usah lah, cerita pembunuhan ini biar kita aja yang tau”
Wahyu : “terima kasih ya, kalian mau mengerti saya”
Semuanya : “iya..”
Akhirnya misteri suara-suara tersebut sudah dapat terpecahkan, sekarang para warga sekitar tidak pernah mendengar suara tangisan lagi, mungkin arwah hantu tersebut sudah tenang karena sudah ada yang tau kejadian sebenarnya.
~SELESAI~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: