Umar bin Abdul Azis

11443_175201259916_172132064916_2681472_1105082_aAkhlak pemimpin seorang Khalifah Umar bin Abdul Aziz, sungguh jauh dari gaya perlente, berpakaian mahal, kendaraan mewah, apalagi makanan yang lezat. Seharusnya pejabat di negeri ini meneladani kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz.

Tatkala Khalifah demi khalifah datang pergi silih berganti, disebut-sebutlah nama Umar bin Abdul Azir untuk menjadi penggantinya. Lalu apa kata Umar ketika namanya digadang-gadang menjadi calon khalifah yang baru. “Jangan sebut-sebut nama saya, katakan bahwa saya tidak menyukainya. Dan jika tidak ada yang menyebut namanya, maka katakan, jangan mengingatkan nama saya,” ujar Umar bin Abdul Aziz.

Suatu ketika dibuatlah rekayasa, berupa surat wasiat, seolah-olah khalifah sebelumnya menetapkan Umar sebagai penggantinya. Begitu diumumkan di depan publik, seluruh hadirin pun serentak menyatakan persetujuannya. Tapi tidak dengan Umar. Ia justru terkejut, seperti mendengar petir di siang bolong. Bukan hanya terkejut, Umar bin Abdul Aziz bahkan mengucapkan: Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’uun, dan bukannya Alhamdulillah seperti kebanyakan para pejabat di negeri ini. Bagi Umar, tahta yang disodorkan adalah musibah, bukan kenikmatan.

Sosok Umar bin Abdul Aziz bukanlah tipe manusia yang berambisi untuk menjadi pemimpin, apalagi mengejarnya. “Demi Allah, ini sama sekali bukanlah atas permintaanku, baik secara rahasia ataupun terang-terangan,” ujar Umar.

Di atas mimbar Umar berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah dibebani dengan pekerjaan ini tanpa meminta pendapatku lebih dulu, dan bukan pula atas permintaanku sendiri, juga tidak pula atas musyawarah kaum muslimin. Dan sesungguhnya aku ini membebaskan saudara-saudara sekalian dari baiat di atas pundak saudara-saudara, maka pilihlah siapa yang kamu sukai untuk dirimu sekalian dengan bebas!”

Ketika semua hadirin telah memilihnya dan melantiknya sebagai Khalifah, Umar berpidato dengan ucapan yang menggugah.

Taatlah kamu kepadaku selama aku ta’at kepada Allah. Jika aku durhaka kepada Allah, maka tak ada keharusan bagimu untuk taat kepadaku.”

UMAR MEREFORMASI KEBIJAKAN BANI UMAYYAH

Sejarah mencatat langkah beliau yang spektakuler dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan memulai babak baru pemerintahan yang bersih.

Gebrakan pertama beliau sebagai seorang pemimpin yang kreatif dan inovatif tatkala menerima amanah jaba-tan sebagai khalifah adalah mengembalikan semua harta dan tanah yang diambil oleh pemerintahan khilafah Bani Umayyah sebelum beliau dari masyarakat melalui tekanan kekuasaan kepada para pemiliknya. Bilamana pemilik tanah dan harta aslinya sudah tidak diketahui lagi maka harta dan tanah itu dikembalikan kepada baitul mal, untuk digunakan bagi keperluan kaum muslimin. Para pejabat dari kalangan Bani Umayyah melepaskan seluruh harta yang mereka bagi-bagikan, harta sumbangan, dan harta yang mereka ambil.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz memulai dari dirinya sendiri dengan cara menyerahkan seluruh harta yang di-milikinya, seluruh kuda tunggangannya, dan seluruh minyak wanginya serta seluruh perhiasannya. Kemudian dijual seharga 23 ribu dinar atau sekitar 11,5 miliar rupiah dan dia masukkan ke Baitul Mal.

Tentu saja langkah tersebut diikuti secara serempak oleh para pejabat dari kalangan Bani Umayyah sehingga dengan gerakan yang beliau lakukan dalam tempo sekitar dua tahun, krisis ekonomi yang terjadi pada pemerintahan sebelumnya bisa diatasi. Bahkan distribusi kekayaan sedemikian merata sehingga tidak ada rakyat yang menjadi mustahiq zakat lantaran fakir atau miskin. Pengentasan kemiskinan yang beliau lakukan bukan sekedar retorika. Karena memang terjadi gerakan ekonomi pro rakyat tersebut dari atas secara nyata.

Istri pejabat umumnya memanfaatkan kedudukan suaminya untuk hidup mewah, tapi Umar justru menawarkan pilihan, antara hidup bersama dirinya dengan melepas semua harta perhiasan yang dikenakan, termasuk permata, mutiara, perabotan rumah tangga yang mahal harganya, atau berpisah. Akhinya, sang istri memilih hidup bersahaja bersama suaminya yang bertahtakan khilafah.

Bila para pejabat sebelumnya selalu ingat kepentingan pribadinya saat menjalankan tugasnya sebagai pejabat negara, maka Khalifah Umar bin Abdul Aziz memberikan teladan gerakan para pejabat yang selalu ingat tugas negara yang dipikulkan oleh Allah SWT kepada-nya saat sedang menikmati kehidupan pribadi. Dengan cara berfikir seperti itu niscaya tidak ada kemaslahatan rakyat yang tidak diurus dan tidak ada kebutuhan rakyat yang tak terpenuhi serta tidak ada keinginan rakyat yang terabaikan.

Umar bin Abdul Aziz menggambarkan betapa tawadhu’nya beliau sebagai seorang pemimpin. Kisah tersebut terjadi ketika suatu malam ada seseorang yang bertamu ke rumah Umar bin Aziz. Kala itu sang khalifah sedang menulis di tengah kondisi cahaya lampu yang mulai redup. Sang tamu yang melihat keadaan itu kemudian ingin memperbaiki lampu tersebut, namun hal itu dicegah oleh sang khalifah. Khalifah Umar bin Abdul Aziz ingin memuliakan tamunya sehingga tidak memperbolehkan tamunya merepotkan diri untuk membenahi lampu yang mulai redup itu. Sang tamu tak berhenti sampai di situ, ia kemudian menganjurkan agar Umar bin Abdul Aziz membangunkan pembantu beliau, namun anjuran si tamu juga ditolak oleh sang khalifah. Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak ingin mengganggu pembantunya beristirahat. Hingga pada akhirnya sang khalifah sendiri yang turun tangan memperbaiki lampu tersebut.

Umar juga membuat kebijakan menghapus pegawai pribadi bagi khalifah. Umar menekankan terjalinnya kedekatan hubungan antara pejabat dan rakyat. Umar juga berhasil menciptakan kemakmuran. Hal itu tergambar dari sulitnya mencari penerima zakat sehingga harta negara yang berasal dari zakat sampai menggunung. Menariknya, meskipun rakyat hidup makmur, Umar tetap hidup sederhana. Ia pernah membuat petugas protokoler terkejut. Pasalnya, Umar menolak kendaraan dinas karena lebih memilih binatang tunggangan miliknya sendiri.

Saat Umar sakit, Maslamah bin Abdul Malik datang menjenguknya. Maslamah melihat pakaian Umar sangat kotor. Ia bertanya kepada Fatimah, istri Umar, “Tidakkah engkau mencuci bajunya?” Fatimah menjawab, “Demi Allah, dia tidak memiliki pakaian lain, kecuali yang dipakainya.”

Suatu ketika, Umar memanggil istrinya yang memiliki banyak perhiasan pemberian ayahnya. “Wahai istriku, pilihlah olehmu, kamu kembalikan perhiasan-perhiasan ini ke baitulmal atau kamu izinkan saya meninggalkan kamu untuk selamanya. Aku tidak suka bila aku, kamu, dan perhiasan ini berada dalam satu rumah.” Fatimah menjawab, “Saya memilih kamu daripada perhiasan-perhiasan ini.”

Umar juga dikenal bersih dan jujur. Diriwayatkan Amr bin Muhajir, suatu hari salah seorang anggota keluarganya memberi apel. Umar lantas berkata, “Alangkah harum aromanya. Wahai pelayan, kembalikan apel ini kepada si pemberi dan sampaikan salam saya kepadanya bahwa hadiah yang dikirim telah sampai.” Amr bertanya, “Mengapa pemberian hadiah dari orang yang masih ada hubungan kekerabatan ditolak? Padahal, Rasulullah SAW juga menerima hadiah.” Umar menjawab, “Sesungguhnya, hadiah yang diberikan kepada Rasulullah benar-benar hadiah, sedangkan yang diberikan kepadaku ini adalah suap.”
Pejabat seperti khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah pejabat yang sadar betul bahwa jabatan adalah amanat Allah yang bakal dimintai pertangungjawaban kelak di hari kiamat ketika mulut terkunci, tangan yang berbicara, dan kaki menjadi saksi. Sungguh Rasululullah SAW menga-jarkan kepada kita memilih pejabat yang amanah seperti Umar bin Abdul Aziz yang terbukti nyata mampu menjalankan amanah mengurus rakyat dengan hukum syariah-Nya.

Bagaimana bisa demikian?

20090223110020

Visi dan Karakter Kenegarawan yang dimiliki

Pertama, memiliki pandangan hidup yang mendasar, yakni pemikiran yang menyeluruh tentang kehidupan, manusia, dan alam semesta, sehingga dia paham bahwa hidup bukanlah semata hari ini, saat dia bergelimang kekuasaan, tapi juga nanti saat dia ditanya tentang seluruh perbuatannya tatkala dia berkuasa. Lihatlah ucapan beliau kepada sang istri: ‘Engkau tahu, aku telah diserahi urusan seluruh umat ini, yang berkulit putih maupun hitam, lalu aku ingat akan orang yang terasing, peminta-minta yang merendah, orang kehilangan, orang-orang fakir yang sangat membu-tuhkan, tawanan yang tertekan jiwanya dan lain sebagainya di berbagai tempat di bumi ini. Dan aku tahu persis, Allah SWT pasti akan menanyaiku tentang mereka, dan Muhammad saw akan membantahku dalam masalah mereka (jika aku mangkir); karena itulah aku takut akan diriku sendiri”. Beliau tidak berkata : “Ayo kamu minta apa saja pasti kukabulkan, karena sekarang aku menjadi orang nomor satu di Negara ini!”.

Kiranya beliau yang juga dikenal sebagai pejabat yang memiliki ilmusiyasah syar’iyyah faham betul bagaimana mengimplementasikan sabda Nabi: “Seorang Imam yang diberi amanat memimpin manusia adalah laksa penggembala dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyat yang dipimpinnya”.

Kedua, memiliki pandangan hidup yang jelas bagaimana mewujudkan kebahagiaan yang nyata, yakni melakukan sesuatu yang menyebabkan Allah SWT penguasa alam semesta dan penguasa hari kiamat meridoinya. Dari ungkapan beliau r.a. kepada sang istri di atas jelas bahwa perhatian beliau adalah bagaimana menjalankan tanggung jawab-nya sebagai penguasa agar mendaptkan ridlo Allah dan terhindar dari murka Allah SWT. Bukan seperti para penguasa muslim hari ini yang hanya sekedar berdoa: Allahumma ini as aluka ridloka wal jannah wa a’udzubika min skhotika wan naar (Ya Allah aku mohon ridlo-Mu dan surga-Mu dan aku berlindung dari murka-Mu daqn neraka-Mu) sementara kebijakan yang dibuatnya justru me-ngantarkannya kepada murka Allah dan menjauhi ridlo-Nya.

Ketiga, memiliki pengetahuan dan pemahaman peradaban yang mengangkat kehidupan rakyat yang dengan peradaban tersebut mereka memiliki kondisi kehidupan yang lebih baik, memiliki taraf berfikir yang lebih tinggi disertai nilai-nilai luhur dan ketentraman abadi. Dari ungkapan beliau kepada sang istri di atas tampak jelas bahwa memiliki visi dan misi negarawan yang mengangkat derajat kaum dhuafa dan para tawanan agar mendapatkan kebebasan dan terpenuhi kecukupan kebutuhan hidup mereka sehingga perasaan mereka aman dan hati mereka menjadi tentram.

Dengan visi dan misi kenegarawan tersebut Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengambil berbagai kebijakan yang pro rakyat. Antara lain beliau memberikan gaji kepada para hakim (qadli) lebih tinggi daripada para pegawai yang lain, yakni sekitar 400 dinar atau sekitar 200 juta per tahun. Ini diberikan agar qadli menjalan-kan tugasnya dengan adil dan dilandasi ketaqwaan sehingga tidak mudah dibeli oleh orang-orang yang hendak berlaku curang dalam perkara. Beliau juga melarang para pejabat dan gubernur melakukan bisnis. Sebab bisnis penguasa itu akan menimbulkan fasad atau kerusakan jiwa bagi yang bersangkutan dan akan menimbulkan kehancuran (mahlakat) bagi rakyat. Sebab penguasa akan melakukan monopoli dan memak-sakan harganya kepada rakyat demi penumpukan modal bagi dirinya.

Mengangkat pejabat tanpa menghi-raukan ada orang yang sejatinya lebih layak menjabat –hanya karena menda-patkan suara terbanyak akibat dukungan kampanye yang menakjubkan dan berbagai tipudaya sebagaimana yang terjadi dalam pilpres dan pilkada ala sistem demokrasi– hanyalah sebuah pengkhianatan yang menyakitkan umat. Fakta menunjukkan tak ada satu contohpun dari hasil pilihan demokratis yang mampu berkiprah sebagai pejabat tulen seperti khalifah Umar bin Abdul Aziz atau para khalifah yang lain yang memiliki sifat kenegarawanan sejati.

Umar bin Abdul Aziz memang mempunyai pandangan yang berbeda dengan kebanyakan penguasa Bani Umayyah dalam meluruskan kebengkokan, baik dalam politik domestik maupun luar negeri. Bahkan, dalam kehidupan pribadinya ketika menjadi khalifah.Ketika penguasa Bani Umayyah sebelumnya mengambil sikap bermusuhan dengan lawan politiknya, maka Khalifah Umar bin Abdul Aziz justru membuka diri dan merangkul lawan-lawan politik Bani Umayyah, seperti kelompok Syiah dan Khawarij. Semuanya itu tak lain untuk menurunkan ketegangan politik yang diwariskan secara turun temurun oleh Bani Umayyah.Khalifah Umar, misalnya, menghentikan kebiasaan Bani Umayyah menyerang Sayyidina Ali di mimbar-mimbar masjid, sebagaimana kebiasaan penguasa Bani Umayyah. Dengan kebijakannya itu, para pendukung Sayyidina Ali, Yang menamakan dirinya Syiah, merasa tidak terusik. Sedangkan terhadap kaum Khawarij, Khalifah Umar banyak melakukan rekonsiliasi dengan membuka pintu dialog dan argumentasi, sebagaimana yang dilakukannya dengan Syaudzab bin al-Hakam,  tokoh Khawarij.

Masa sekarang inilah masa fitnah karena kaum muslimin miskin pemimpin yang memiliki visi kenegarawanan. Mereka tidak lebih seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW :

”Akan datang kepada kalian tahun-tahun tipu daya. Pada waktu itu pendus-ta di benarkan sedangkan orang yang benar didustakan. Pengkhianat diper-caya sedangkan yang amanah dianggap khianat. Pada saat itu akan berbicara ar ruwaibidloh”.

Ditanyakan apakah ar ruwaibidloh? Nabi Menjawab: ”Orang-orang yang bodoh tentang urusan publik”. Akan kondisi fitnah ini terus berlang-ung? Wallahua’lam!

sumber: dikutip dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s